Pengeringan Kayu

Pohon yang baru ditebang akan memiliki lubang-lubang dan selnya masih banyak mengandung air. Dalam kondisi tersebut kayu yang baru ditebang namanya kayu “hijau”. Untuk mengurangi kadar air dalam batang hingga tahapan yang dihendaki perlu waktu dalam proses pengeringan. Kayu yang akan digunakan sebaiknya memiliki kadar air antara 12-20%. Apabila kadar air melebihi 20%, maka kayu tersebut akan mudah terserang jamur perusak. Pengeringan kayu sangat penting yang bertujuan memperkecil kadar air dalam batang, mencegah kayu terserang jamur dan serangga, meningkatkan kekuatan kayu dan mempermudah pemakaian kayu. Contoh cara menghitung kadar air kayu : a). Diambil sebatang kayu yang masih basah/baru ditebang sepanjang 1 meter dan berat, misalnya beratnya A kg; b). Selanjutnya kayu tersebut dikeringkan selama 5-7 hari kemudian dihitung beratnya setelah dikeringkan, misalkan beratnya B kg. Kadar air air dapat dihitung dengan cara : kadar air = (A-B)/B x 100 %. Selama ini dikenal tiga cara pengeringan kayu, yaitu pengeringan secara alami oleh udara luar, pengeringan dalam tungku pengering (buatan) dan kombinasi antara pengeringan alami dengan pengeringan buatan. Masing-masing cara mempunyai keuntungan dan kerugian tersendiri. Keuntungan cara pengeringan udara luar mudah dan kerugiannya memerlukan waktu lama. Pengeringan alami oleh udara luar berlangsung lamban karena tergantung dari udara serta panas oleh matahari dan disirkulasikan oleh angin ke sel-sel kayu. Pada cara pengeringan ini sebaiknya kayu-kayu disusun dengan sesuai yang bertujuan udara dapat bersirkulasi dengan sempurna. Tumpukan kayu minimal tebalnya 2 meter untuk menghindari kelambatan pengeringan dan menghindari noda-noda hitam dipermukaan kayu. Melakukan pengeringan alami, membuat pondasi dengan batu bata. Tinggi pondasi dibuat sekitar 35 cm dan jarak bata 100cm. Balok kayu dipasang melintang antara pondasi yang disusun secara berurutan. Diantara masing-masing tumpukan kayu dibatasi dengan kayu penganjal yang disebut (lat) berukuran tebal 2 cm dan lebar 3 cm. Bertujuan untuk mencegah noda-noda pada permukaan kayu. Pada kayu yang keras atau kayu yang tidak lentur jarak dengan (lat) penganjal dibuat 1 meter. Sebaliknya, untuk kayu yang lentur dan tebal jarak dengan (lat) berkurang menjadi 0,5 meter. Tumpukan kayu tersebut harus dilindungi dari sinar matahari dan hujan. Lama pengeringan kayu sangat bervariasi, tergantung jenis dan ketebalan kayu.